Harga Yaris Crossover Bentrok dengan BR-V dan HR-V

Pada 3 November 2016 PT Toyota Astra Motor (TAM) akan meluncurkan Yaris terbaru, sekaligus menambah varian. Nantinya bakal tersedia pilihan Yaris Heykers atau versi crossover yang ground clearance lebih tinggi 3 cm.

Bicara harga, tenaga penjual diler Toyota di kawasan Jakarta sudah membocorkan. Meski sifatnya masih estimasi, namun jika dilihat dari banderolnya, Yaris Heykers bersaing dengan Honda BR-V tipe Prestige dan HR-V 1.5-liter S MT.

Informasi harga yang diumbar pramuniaga diler Toyota, Yaris Heykers MT dijual mulai Rp 266.000.000 – Rp 269.000.000, dan Yaris Heykers AT Rp 277.000.000 – Rp 280.000.000.

Sedangkan pesaingnya di kelas low sport utility vehicle (LSUV) alias crossover, BR-V Prestige CVT dijual Rp 263.100.000, dan HR-V 1.5-liter S MT Rp 268.400.000. Banderol tersebut berlaku untuk Oktober 2016.

Konsumen yang tertarik beli Yaris terbaru, sudah bisa dipesan sebelum diluncurkan. “Tanda jadinya hanya Rp 5 juta. Setelah resmi dijual, akan diinformasikan lebih lanjut mengenai harga aslinya,” kata pramuniaga salah satu diler Toyota di Jakarta Selatan yang menolak disebutkan identitasnya kepada Otomania belum lama ini.

Renault Captur Bakal Tantang Honda HR-V

Setelah menghadirkan Kwid dan Koleos terbaru pekan lalu, Renault Indonesia tidak melupakan model SUV lain yang ada di Indonesia. Renault Indonesia sedang mempersiapkan strategi khusus untuk Captur, medium SUV mereka untuk pasar Indonesia.

“Captur itu mobilnya didatangkan langsung dari Perancis. Jadi dari segi harga memang lumayan bila dibandingkan model sejenis dari merek lainnya. Renault sedang mempersiapkan strategi untuk model ini dalam waktu dekat,” ucap Ario Soerjo, Head of Sales and Marketing PT Auto Euro Indonesia beberapa waktu lalu.

Strategi yang akan dijalankan Renault adalah dengan melakukan proses completely knock down (CKD) pada pabrik mereka di Malaysia yang saat ini masih dalam proses pembangunan. Bila pabrik ini selesai, nantinya Renault dapat memanfaatkan perjanjian AFTA dengan membuat Form B yang bisa menekan harga Captur.

“Saat ini Captur di harga Rp 380 juta. Bila rencana ini terealisasi, harganya bisa bersaing dengan SUV di kelas yang sama bahkan merek Jepang,” ucap Ario.

Menilik rival sekelasnya, Captur berhadapan dengan Honda HR-V. SUV ini juga menggunakan mesin 1.5 L dan memiliki rentang harga mulai dari Rp 268 juta sampai Rp 300 juta. Captur sendiri hingga bulan September 2016 telah terjual sebanyak 5 unit.

Captur menggunakan mesin 4 silinder 1.197 cc dan dipasangkan dengan  transmisi dual clutch enam percepatan. Mesin ini menghasilkan tenaga 120 hp dengan torsi 190 Nm.

Mobil Bekas 1.300 cc Bakal Jadi Incaran Baru

Adanya peraturan yang membatasi kubikasi mesin untuk taksi online, bakal memicu pergeseran di penjualan mobil bekas (mobkas). Mobil berkapasitas di bawah 1.300 cc yang umumnya dikuasai mobil murah (low cost gren car/LCGC) berlahan akan mulai ditinggalkan.

Menajer Pemasaran Senior WTC Mangga Dua Herjanto Kosasih, menjelaskan bahwa akibat regulasi tersebut akan muncul tren baru di kelas city car bekas.
“Kalau regulasinya mulai jalan otomatis orang akan beralih ke1.300 cc ke atas, incarannya bukan langsung ke low MPV karena tetap mengejar harga murah, jadi lebih ke mobil city car juga,” ucap Herjanto, Selasa (11/10/2016).
Menurutnya, mobil-mobil city car yang selama ini penjualannya kurang akibat kalah saing dengan LCGC akan lebih berkembang. Terutama yang kapasitas mesinya di bawah 1.500 cc atau mobil non-Jepang.
“Efek sebeb akibat, peralihannya bisa ke Sirion atau March, lebih ke mobil cc nanggung. Tapi kalao yang pilih 1.500 cc pasti cari harga yang sudah murah terutama mobil non Jepang, seperti Hyundai atau Kia,” kata Herjanto.
Budiyanto pemilik showroom mobkas Anugrah Mobilindo Perkasa di MGK juga beranggapan serupa. Namun menurutnya tidak dalam waktu dekat, tapi kemungkinan di awal tahun 2017.

“Orang pasti cari pengganti dan mereka cari dengan rentang harga yang tetap terjangkau tapi cc lebih besar. Untuk saat ini belum terlihat, tapi bisa jadi awal tahun baru mulai,” ujar Budiyanto di waktu yang sama.

Berteduh Sebentar Saat Hujan, Tetap Kena Tilang?

Polda Metro Jaya (PMJ) mengimbau kepada pengguna sepeda motor untuk tidak berteduh di bawah jembatan layang atau under pass saat hujan. Sebab, bisa mengganggu pengguna jalan lain dan menyebabkan kemacetan.

Lantas, bagaimana jika pengguna motor itu hanya menggunakan jas hujan saja?

Kepala Subdit Pembinaan dan Penegakan Hukum Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Budiyanto menuturkan, yang akan menggunakan jas hujan diminta berhenti pada lokasi aman atau tidak mengganggu sirkulasi lalu lintas di jalan tersebut.

“Jadi sepanjang tidak mengganggu lalu lintas masih bisa dimaklumi,” kata Budiyanto saat dihubungi Otomania, Kamis (13/10/2016).

Menurut dia, pengendara yang akan ditilang itu, sengaja berteduh dan memarkirkan motornya memakan bahu jalan setempat. Sesuai peraturan, yakni Pasal 282 Undang-undang No.22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

“Dendanya paling banyak Rp 250.000 atau pidana kurungan satu bulan. Itu yang bandel, pakai jas hujan tetep berteduh di bawah fly over atau under pass,” kata Budiyanto.

Kebiasaan Buruk Tarik Rem Tangan

Seiring penggunaanya, ternyata rem parkir atau akrab disapa rem tangan bisa bermasalah, mulai dari macet saat digunakan, sampai putus. Meski cukup jarang, namun kondisi ini sangat fatal bila sampai kejadian.

Salah satu penyebab tali rem tangan putus adalah akibat pengunaannya yang salah. Executive Technical Service Division Astra Daihatsu Motor (ADM) Anjar Rosjadi menjelaskan, bahwa banyak orang tidak sadar saat menekan rem terlalu berlebihan bisa membuat tali terlalu tegang dan rawan putus.

“Penyebab utamanya karena terlalu over saat mengoperasikannya. Contoh, terlalu kuat saat menarik tuas rem tangan ke posisi atas sampai melebihi batasnya, bila keseringan akan membuat kaitan kepala tali ke tuas putus karena terlalu tegang,” kata Anjar kepada Otomania, Rabu 5/10/2016).

Menurut Anjar, untuk Daihatsu sendiri memiliki batasan tingkat rem tangan hingga tujuh klik. Artinya, saat rem diangkat akan terdengar suara tarikan, bila suara tersebut sudah terdengar tujuh kali berarti itu merupakan batas maksimal rem tangan diangkat.

“Umumnya orang suka menarik tanpa memikirkan batasannya. Meski masih bisa di atas tujuh klik, tapi tali akan lebih tegang, efeknya kepala tuas pegangan juga rawan putus bila selalu melakukan hal ini,” ucap Anjar.