Italia vs Spanyol Berakhir Tanpa Pemenang

Vitolo membawa Spanyol unggul lebih dulu, setelahnya Daniele De Rossi membawa Italia menyamakan kedudukan lewat tendangan penaltinya. Dengan hasil ini, Spanyol berada di posisi kedua Grup G kualifikasi Piala Dunia 2018 zona UEFA dengan nilai 4. Sementara itu, Italia berada di posisi ketiga, juga dengan koleksi nilai 4.

Pada pertandingan yang berlangsung di Juventus Stadium, Jumat (7/10/2016) dini hari WIB, Spanyol mendominasi jalannya pertandingan sejak babak pertama. La Furia Roja tidak hanya memenangi penguasaan bola, tetapi pemain mereka juga rajin menekan pemain-pemain Italia ketika tidak sedang menguasai bola.

Sekitar 20 menit pertama pertandingan, para pemain Spanyol kerap memberikan tekanan kepada para pemain-pemain belakang Italia. Ditambah dengan jarak yang cukup lebar antara lini belakang dan lini tengah, ini membuat Italia kesulitan untuk mengembangkan permainan. Imbasnya, Gli Azzurri kerap melepaskan umpan panjang langsung ke depan.

Pada 20 menit pertaa itu, setidaknya ada dua peluang bagus yang didapatkan Spanyol. Yang pertama adalah lewat Andres Iniesta pada menit ke-11. Gelandang Barcelona itu melakukan tusukan dari tengah sebelum akhirnya melakukan operan satu-dua dengan David Silva. Setelah menerima operan kembali dari Silva, Iniesta melepaskan tendangan kaki kiri, namun tendangannya mengarah tepat ke tangkapan Gianluigi Buffon.

Peluang yang kedua didapatkan oleh Gerard Pique di menit ke-19. Bek tengah bernomor punggung 3 itu menyambut bola hasil umpan silang yang dilepaskan Iniesta dari kanan. Namun, sundulan Pique dari tiang jauh masih melebar.

Itu bukanlah pertama kalinya Pique mendapatkan peluang pada pertandingan ini. Enam menit setelah sundulannya melenceng, Pique kembali mendapatkan kans. Kali ini, dia melanjutkan sundulan dari Sergio Ramos dengan sundulan kembali. Tetapi, Buffon masih bisa menghentikannya.

Enam menit menjelang babak pertama selesai, gantian Diego Costa yang mengancam gawang Italia. Striker berdarah Brasil itu menerima operan dari Silva dan menyelesaikannya lewat tendangan kaki kanan dari dalam kotak penalti. Hasilnya? Tendangannya melebar.

Spanyol baru bisa mencetak gol ke gawang Italia pada menit ke-55. Gol bermula dari umpan panjang yang dilepaskan oleh Sergio Busquets dari tengah lapangan. Umpan Busquets itu dikejar oleh Vitolo dan berniat untuk disapu oleh Buffon, yang maju meninggalkan gawangnya.

Namun, Buffon melakukan kesalahan. Ia gagal menyapu bola. Imbasnya, bola kemudian dikuasai oleh Vitolo dan kini gawang Italia tidak berpengawal. Vitolo dengan tenang melepaskan tendangan datar ke gawang yang sudah kosong.

Tidak lama setelah gol tersebut, Italia mendapatkan kans bagus via Graziano Pelle. Striker Shandong Luneng itu melepaskan sundulan dari dalam kotak penalti, namun sundulannya belum mengarah tepat sasaran.

Spanyol, yang masih mendominasi penguasaan bola, kesulitan untuk menembus pertahanan Italia setelah gol pertama tersebut. Sebaliknya, Italia terus mencari cara untuk bisa mencetak gol penyama kedudukan. Pelatih Italia, Giampiero Ventura, kemudian memasukkan Ciro Immobile pada menit ke-64 dan menarik keluar Pelle.

Sementara itu, pada menit ke-67, sempat terjadi insiden kecil. Costa, yang sudah terperangkap offside, malah dengan sengaja menyepak bola keras-keras. Para pemain Italia, merasa itu adalah pelanggaran dan Costa layak mendapatkan kartu kuning. Masalahnya buat Spanyol, saat itu Costa sebelumnya sudah mendapatkan kartu kuning dan satu kartu lagi berarti ia harus meninggalkan lapangan. Beruntung buat Spanyol dan Costa, wasit hanya memberi peringatan.

Tepat setelah insiden kecil itu, Costa meninggalkan lapangan dan Alvaro Morata masuk ke lapangan. Spanyol kian agresif. Pada menit ke-68, mereka mendapatkan kans lewat sepakan Vitolo dari dalam kotak penalti. Namun, tendangan Vitolo melebar.

Di sisi lain, Italia berusaha menekan lewat serangan dari sayap. Beberapa kans mereka dapatkan dengan diawali oleh umpan dan operan dari sayap kanan. Tetapi, baru pada menit ke-82 mereka mendapatkan gol.

Wasit menunjuk titik putih setelah berdiskusi dengan hakim garis, menyusul pelanggaran yang dilakukan Sergio Ramos terhadap Eder. Para pemain Spanyol sempat memprotes keputusan tersebut. Namun, wasit tetap pada keputusannya. Daniele De Rossi maju menjadi algojo penalti dan sukses mengubah kedudukan menjadi 1-1.

Italia bertambah agresif setelah gol tersebut. Satu gol mereka bahkan sempat dianulir lantaran Andrea Belotti sudah berada dalam posisi offside. Satu peluang didapatkan Immobile pada menit ke-85, namun sepakannya melebar.

Tidak ada gol tambahan setelahnya. Laga berakhir dengan skor 1-1.

Susunan Pemain

Italia: Buffon, Barzagli, Bonucci, Romagnoli, De Sciglio, Florenzi, Parolo (Belotti 76), De Rossi, Montolivo (Bonaventura 30), Eder, Pelle (Immobile 60).

Spanyol: De Gea, Carvajal, Pique, Ramos, Jordi Alba (Nacho 22), Busquets, Iniesta, Koke, Silva, Vitolo (Thiago 83), Diego Costa (Morata 67).

Arsene Wenger Dianggap Jiplak Taktik Jurgen Klopp

Mantan pemain Arsenal, Stewart Robson, memandang khusus kebangkitan mantan timnya di Liga Primer Inggris dalam beberapa pekan terakhir.

Robson lantas berasumsi bahwa manajer The Gunners, Arsene Wenger, telah meniru taktik yang diterapkan manajer Liverpool, Jurgen Klopp.

Penempatan Alexis Sanchez sebagai false nine dianggapnya sama dengan kreasi Klopp terhadap posisi Roberto Firmino.

“Saya bertanya-tanya apakah Wenger sudah melihat Liverpool dan cara mereka bermain tanpa striker dengan tempatkan Roberto Firmino yang bermain sedikit ke depan,” buka Robson, seperti dilansir The Game.

“Wenger mungkin sudah melihat hal itu setelah Arsenal dihancurkan di laga pertama dan ia memutuskan untuk melakukannya pada Alexis Sanchez. Di belakangya kemudian ada tiga pemain yang melakukan hal serupa dalam menyerang,” pungkasnya.

Chelsea Persilakan AC Milan Angkut Cesc Fabregas Januari

Chelsea berkenan menggelar negosiasi dengan AC Milan terkait transfer Cesc Fabregas. Demikian diungkapkan Calciomercatoweb.

Rossoneri sangat kepincut dengan tenaga pemain Spanyol itu sejak musim panas kemarin, akan tetapi bos Chelsea Antonio Conte merasa masih memerlukan tenaga sang gelandang.

Kendati demikian, situasi kembali berubah dan kemungkinan besar Fabregas akan diuangkan pada bursa transfer musim dingin mendatang. Sebagai balasan dari ketersediaan Fabregas pada Januari nanti, Conte meminta nama Mattia De Sciglio dimasukkan dalam paket transfer.

De Sciglio merupakan fullback serbaguna dan telah diniatkan oleh Conte untuk menjadi penerus Branislav Ivanovic yang telah memasuki pengujung kariernya. Conte ingin memiliki opsi lebih banyak di barisan belakangnya, demi menanggulangi risiko cedera.

The Blues kabarnya tidak akan keberatan melepas Fabregas senilai £8,7 juta, kendati ketika didatangkan dari Barcelona sang gelandang kreatif memiliki banderol mencapai £27 juta.

Mario Balotelli Beberkan Faktor Keterpurukan AC Milan

Striker Nice yang tengah naik daun, Mario Balotelli, mengungkapkan alasan kenapa AC Milan terpuruk dalam lima musim terakhir.

Jawara Serie A Italia 18 kali itu tak pernah lagi menjadi kampiun sejak 2011 dan mantan pemain mereka, Balotelli, merasa ada satu masalah krusial yang hingga sekarang tak mampu dibenahi manajemen kubu San Siro.

“Masalah di sana adalah soal administrasi,” beber Balotelli kepada Sky Italia.

“Hanya ada satu orang yang fenomenal, dan dialah [CEO klub Adriano] Galliani. Sisanya dari klub ini adalah orang-orang yang kebingungan,” tambah mantan penyerang Internazionale, Manchester City dan Liverpool tersebut.

Balotelli, seperti diketahui, menjalani dua setengah musim dengan seragam Rossoneri, mencetak 33 gol dalam 77 pertandingan bersama raksasa Italia itu.

Paolo Maldini Tolak Tawaran Pulang Ke AC Milan

Paolo Maldini menolak tawaran untuk kembali ke AC Milan. Menurut Calciomercato, bek legendaris Italia itu kurang puas dengan tim ofisial yang dibentuk oleh pemilik anyar asal Tiongkok.

Sebelumnya, kepulangan Maldini dikabarkan hanya tinggal menunggu pengumuman resmi. Mantan pemain Milan itu sudah menjalin pertemuan dengan manajer umum Marco Fassone dan perantara Sino-Europe Sports.

Maldini semula ditugaskan untuk menemani direktur olahraga baru, Massimo Mirabelli, namun sang legenda diyakini kurang puas. Ia menuntut adanya “pengambil keputusan yang hebat, seperti Leonardo di Paris Saint-Germain”.

Permintaan seperti itu, yang juga sudah dibicarakan dengan perwakilan selain Li, dianggap “tidak dapat dipenuhi” oleh Fassone. Pemilik anyar asal Tiongkok itu sendiri dikabarkan kecewa dengna keputusan Maldini untuk mempublikasikan keraguannya.