Obat Penenang Banyak Disalahgunakan dengan Resep Curian

1

Peredaran obat penenang di pasaran menjadi sorotan. Banyak kasus orang menyalahgunakan obat penenang untuk mabuk, dan bahkan untuk aksi kriminal. Lalu bagaimana orang-orang mendapatkan obat yang sengaja disalahgunakan tersebut?

Psikiater Teddy Hidayat menyebut salah satu jenis obat penenang, benzodiazepin sebagai psikotropika yang banyak diresepkan di dunia, termasuk Indonesia. Jenis ini juga paling sering disalahgunakan untuk mabuk-mabukan.

“Jenis ini (benzodiazepin) paling marak disalahgunakan di Indonesia,” ucap Teddy saat konferensi pers dalam acara seminar bertema ‘Benzodiazepine In Daily Practices, Pro and Contra…..?’ di Hotel Aston, Jalan Djunjunan, Kota Bandung, Jumat (30/9/2016).

Kegiatan tersebut digelar IKA UNPAD (Ikatan Alumni Universitas Padjadjaran), Komisariat Fakultas Kedokteran Subkomisariat Psikiatri dan Bandung institute for Scientist Practitioners in Mental Health and Addiction (BISMA).

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Cabang Bandung dan sekitarnya, Irwanto Ichlas, mengatakan obat penenang tidak sembarangan dibeli oleh masyarakat.

“Obat penenang itu harus ada resep dokter. Psikiater enggak boleh jual, jadi cuma kasih resep,” kata Irwanto.

Pihak apotek, sambung dia, harus menjual obat penenang kepada pembeli setelah menerima resep dokter. Konsumen atau pembelinya wajib memperlihatkan KTP.

Harga obat penenang yang sering disalahgunakan sangat beragam. Mulai dari Rp 700 pertablet untuk versi generik, hingga Rp 4.000 pertablet untuk obat paten maupun bermerk.

“Tapi mendapatkannya kan tidak mudah. Apotek-apotek ada resistensinya. Defensif sekali,” ujar Irwanto menambahkan.

Namun Irwanto mengakui ada saja pengguna yang memang mendapatkan obat penenang dengan cara ilegal yang kemudian disalahgunakan. Seperti apa?

“Saya kalau praktik enggak pernah menyimpan kertas resep di meja. Sebab pernah teman saya resepnya diambil pasien. Jadi saya ingatkan juga kepada psikiater agar tidak simpan resep di meja,” kata Irwanto.

Bukan hanya itu, beragam cara dilakukan orang untuk memperoleh obat penenang. Bahkan ada yang mencetak sendiri resep palsu untuk menebus obat penenang yang diinginkan.

Seringkali, masyarakat juga begitu mudah mendapatkan benzodiazepin melalui pasar gelap. Irwanto juga mengakui ada oknum psikiater nakal yang memuluskan orang membeli obat penenang.

“Resepnya dijual dan distempel. Enggak boleh seperti itu. Resep dikeluarkan satu ya satu, enggak boleh misal sepuluh lembar. Pasiennya juga harus datang ke tempat praktik,” ucap Irwanto.

Penyalahgunaan obat penenang di dunia kriminal sudah sering terdengar. Bukti terbaru soal kawanan spesialis pencuri mobil yang aksinya diungkap polisi di Karawang, Jawa Barat. Pelaku mencampurkan obat penenang untuk membius korban atau pemilik mobil.

Kabag Bin Opsnal Ditnarkoba Polda AKBP Mulyadi mencatat 145 kasus penyalahgunaan psikotropika di Jabar mulai Januari hingga Agustus 2016. “Tersangkanya 172 orang. Mayoritas tersangka itu pria,” ucap Mulyadi.

Paling banyak kasus penyalahgunaan psikotropika itu, sambung Mulyadi, jenis obat penenang generik jenis alprazolam. Beberapa jenis obat penenang lain yang sering disalahgunakan antara lain Xanax, Calmlet, Apazol, Alganax dan Zypraz.

Obat-obat itu disalahgunakan orang untuk mabuk dengan cara mengonsumsi melebihi dosis atau dicampur dengan jenis narkoba. “Peran para tersangka itu kebanyakannya sebagai penjual. Mereka membeli obat di apotek dan pasar gelap. Kalau beli di apotek, caranya memalsukan resep atau memborong resep dari dokter. Bisa juga belinya sesuai, tapi kemudian malah dijual,” kata Mulyadi.

Related Post

Be the first to comment on "Obat Penenang Banyak Disalahgunakan dengan Resep Curian"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*